SEASON I
Bingung mau cerita darimana, yang pasti
ini cerita asli dari hidupku dan aku alami, walaupun ganjil cerita ini menimpa
seorang gadis berpendidikan seusiaku, tapi inilah aku yang selalu menerima
siapapun dalam hidupku. Dulu waktu aku kelas 2 SMA aku dapat sms nyasar dari
orang yang tidak aku kenal, ya iyalah tidak aku kenal, kalau aku sudah
mengenalnya tdak mungkin kan aku bilang mendapat sms nyasar. Ternyata itu sms
dari seseorang dari Pulau Sumatera, senang banget aku waktu itu mendapat
kenalan seorang dari lar Pulau Jawa. Akhirnya aku menanggapi sms tersebut dan
berlanjut perkenalan kami, dia mengaku mendapat nomorku dari seorang temannya,
tetapi tulisan temannya macam tulisan kaki ayam alias gag jelas banget gitu,
terus dia menerka-nerka itu tulisan dan alhasil nyasar ke nomorku. Okeh alasan
yang masuk akal jugalah. Perkenalan kita sudah cukup jauh, bercerita tentang
keluarga, kegiatan kita sehari-hari, dan banyak hal. Oya aku lupa perkenalkan
siapa nama tokoh lelaki ini, dia bernama edward bekerja di sebuah perusahaan
pengiriman barang yang di tempatkan di Lampung, dia berumur 24 waktu itu, asli
orang Medan,seorang perjaka, seorang
Kristen yang menurutku hebat banget waktu itu imannya. Dia bercerita tentang
keluarganya, orang tuanya sudah lama meninggal dan dia memiliki 4orang kakak,
dan kakaknya tidak menganggap dia sebagai adik, karena kakak-kakaknya
menyalahkan dia atas kematian ayahnya, itu menurut ceritanya dulu. Aku juga
bercerita tentang keadaan keluargaku yang sangat toleransi atau memang kurang
berkesinambungan. Papa dan Mamaku mengaku seorang islam tetapi hanya sebatas
KTP saja, mereka tidak pernah sholat, mengaji, tapi mereka ikut puasa, yah
mungkn karena lingkungan kompleks rumah di Jakarta islam, jadi mereka mau tidak
mau harus menyesuaikan, aku memiliki seorang adik perempuan kelas 1 SMP
sekarang ini, dia mengaji dan kadang-kadang sholat, lumayanlah daripada orang
tuaku. Dan aku seorang pengikut Kristus, mengapa tadi aku katakan bahwa
keluargaku kurang berkesinambungan, yah karena kami sekeluarga beragama yang
berbeda. Aku menjadi seorang Kristen karena Yesus yang telah memilih aku untuk
menjadi anak-Nya dan berkat nenekku (nenek dari mama). Sejak lahir aku ikut
dengan nenek di Kota Kecil bagian timur Jawa Tengah ya sebut saja Kota Blora.
Dan keluarga dari mama adalah seorang Kristen. Makanya aku menjadi seorang
Kristen. Aku menceritakan hal itu kepada kak edward panggilanku kepadanya, aku
juga bercerita kepadanya bahwa aku saat itu mempunya seorang pacar tetapi
pacarku waktu itu seorang Muslim. Aku banyak bercerita tentang hubungan kami
kepada kak edward, dia menasehatiku untuk mencari pasangan yang seimbang. Pada
awalnya aku menggap nasehatnya sebagai angin lalu, tetapi setelah beberapa
waktu aku pikirkan ada benarnya nesehatnya itu, dan semakin deka pula hubungan
kami. Hampir setiap detik kami berbalas sms, dan setiap malam setelah aku
selesai belajar dia selalu meneleponku hingga larut malam, kami bercerita
tentang hal-hal yang kami alami seharian itu. Aku sangat senang atas kedekatan
kami itu, aku menganggapnya sebagai kakak rohani yang baik, yang membimbingku
dan mengajari aku supaya menjadi seorang gadis yang bertumbuh dalam iman. Kata
sayang lalu kata-kata mesra sering kami lontarkan setiap bertelepon maupun sms.
Dan akhirnya aku mengambil keputusan untuk meminta putus dengan pacarku sesuai
dengan nasehat kak edward, dan mulai membuka hati untuk kak edward yang mengaku
jomblo saat itu, karena aku merasa aku merasa nyaman bersamanya, ya walaupun
kami belum pernah bertemu, maklum Blora-Lampung itu jauh banget ya. Dan
akhirnya kami putuskan untuk berpacaran, ya pacaran dunia maya, kak edward
berjanji untuk datang ke Jawa dan menemuiku suatu saat nanti. Dia membuat
banyak perubahan dalam hidupku, yang dulu aku tidak dengar-dengaran apabila
mendengar Firman Tuhan di gereja, sampai saat ini Puji Tuhan aku bisa menikmati
setiap Firman yang Tuhan berikan untukku. Hingga saat ini aku juga selalu
berdoa sebelum tidur, dia yang mengajarkan hal itu kepadaku dan selalu sabar
mengajakku berdoa setiap malam. Hal yang tak aku lupa darinya adalah, setiap
malam dia selalu meneleponku dan mengajakku Saat Teduh sebelum tidur,
mengangkat pujian, merenungkan Firman-Nya walaupun hanya beberapa ayat,
kemudian ditutup dengan doa bersama, kita saling mendoakan satu sama lain,
meskipun hanya lewat telepon, tapi aku merasakan dia disampingku saat itu,
sungguh pacaran yang luar biasa bagiku, karena dia pacar seiman pertamaku dan
dia bisa membimbingku bertumbuh dalam iman sangat luar biasa. Bukan hanya itu,
dia juga seorang yang baik hati, selama berpacaran dengannya hampir tidak
pernah aku beli pulsa, ya lumayanlah dibelikan pulsa, maklum pelajar butuh dana
banyak untuk jajan dan lain-lainnya. Dia juga mengirimi aku uang untuk tambah
uang jajanku, jika dia sedang mendapat berkat banyak. Semakin lama aku semakin
sayang kepadanya, karena kebaikannya, pengaruhnya dalam hidupku, dan mungkin
aku simpati kepadanya karena ceritanya tentang perjuangan hidupnya hingga saat
itu, tangisan menjadi hal biasa bagiku apabila kak edward bercerita tentang
kisah hidupnya. Dia juga mengirimiku perdana XL dengan nomor yang sama
dengannya, dan aku ganti nomor juga, kak edward berjanji kepadaku, tidak akan
ganti nomor sebelum bertemu denganku. Semakin hari aku semakin yakin bahwa kak
edward adalah pacar yang Tuhan siapkan untukku. Sampai akhirnya lebaran, orang
tuaku, dan anak-anak nenek yang lain pulang ke Blora. Pada suatu siang mama
dengan saudara-saudaranya beserta aku dan nenekku bercerita-cerita tentang
banyak hal, giliran mamaku bercerita, entah waktu itu cerita tentang apa, mama
mengatakan kepadaku bahwa dia tidak mau anaknya menikah dengan satu suku
tertentu, dan aku ingat dengan hubunganku dengan kak edward. Hatiku mulai
gelisah karena kak edward bersuku yang mamaku tidak suka. Aku mulai memutar
otak, resah terhadap perasaanku, bertanya-tanya kepada Tuhan tentang hubunganku
dengan kak edward. Akhirnya aku mengambil keputusan untuk menjauh dan meminta
putus dengan kak edward, waktu itu aku sedang di Jogja untuk mengikuti
bimbingan belajar untuk mengikuti SNMPTN, berarti hubungan kami itu sudah cukup
lama. Tidak terima dan meminta kejelasan mengapa tiba-tiba aku minta putus
dengannya, aku katakan saja aku tidak pernah mencintainya dan hanya
mempermainkannya, alasan ini yang selalu menjadi alibi alasanku meminta putus
dengan pacarku, karena aku ingin pacarku itu bisa move on setelah putus dariku,
dengan membuatnya membenciku. Sedih terluka itu yang aku alami setelah itu, aku
putuskan untuk membuang nomorku yang sama dengan kak edward, dan ganti nomor.
Walaupu aku ganti nomor, aku masih sering miscall
nomor kak edward untuk memastikan janjinya kepadaku, sampai beberapa bulan,
dia masih menggunakan nomor itu, sampai akhirnya aku tidak pernah
menghubunginya secara diam-diam lagi, karena aku sudah menjalin hubungan dengan
seorang lelaki, entah siapa aku lupa, saking banyaknya lelaki dalam hidupku
yang hanya aku jadikan pelampiasan agar terlihat punya pacar, yang pasti
pacarku kali ini seorang Muslim lagi. Berjalan beberapa bulan aku merasa
berdosa karena telah membohonginya, akupun menggunakan alasan yang sama yang
aku utarakan ketika minta putus dengan kak edward. Aku teringat kembali kepada
kak edward, aku membutuhkan sosok sepertinya lagi dalam menjalani suatu
hubungan. Ku beranikan diri untuk meneleponnya, dan nomornya masih aktif, waktu
itu aku sudah berkuliah. Responnya kurang baik kepadaku, mungkin dia masih
kecewa dan sakit hati denganku. Lama kelamaan hubungan kami mulai membaik
meskipun tak seperti dulu lagi. Dia mengatakan dia sudah pindah ke Palembang
tidak di Lampung lagi dengan tempat kerja yang masih sama. Kami berkomunikasi
seperti teman biasa, meski tak seperti dulu lagi, tapi dia memaafkan aku itu
sudah menyenangkan. Dan akhirnya saat aku semester 3 sekitar bulan mei-agustus,
lupa bulan apa dia menghubungiku, dan memberi tahu kepadaku bahwa dia sekarang
di Semarang, dia ingin bertemu denganku, dan menyuruhku untuk menemuinya di
Semarang, memang dekat jarak Salatiga-Semarang, oya aku kuliah di Universitas
di Salatiga. Hatiku ragu untuk menemuinya, karena saat itu aku sudah menemukan
seseorang yang membuatku nyaman juga saat bersamanya, meskipun dia juga seorang
Muslim, aku tak mau lagi mempermainkan perasaan seorang lelaki. Aku putuskan
untuk tidak menemuinya, hingga akhirnya dia kembali ke Palembang. Dia sangat
kecewa denganku karena tidak mau menemuinya. Setelah beberapa minggu, aku coba
untuk menghubunginya, untuk menanyakan kabarnya, dan memastikan dia sudah
memaafkan aku yang tidak mau menemuinya. Nomor yang anda tuju tidak terdaftar,
itu yang aku dengar dari teleponku kepadanya, sedih tentu iya, karena aku telah
mengecewakannya berulang kali. Lepas dari itu aku menjalani hari-hariku seperti
biasa, sampai akhirnya ada nomor baru yang menghubungiku, menanyakan kabarku,
kak edward menghubungiku lagi, betapa senangnya aku, aku merasa bahwa kak
edward telah melupakan kejadian itu, ternyata ketika kak edward pulang ke
Palembang, handphonenya hilang. Kami berhubungan seperti biasa, layaknya
seorang teman cerita. Sampai beberapa hari yang lalu aku mendapat sms darinya,
dia bertanya apa yang dilakukan seorang wanita dengan seorang pria dikamar,
meskipun wanita itu pernah melakukan hal yang sama dengan pria lamanya. Aku
bingung menanggapinya, setelah berbalas sms berkali-kali. Aku mengerti maksud sms
kak edward, dia bercerita bahwa dia menghubungi wanita tetapi yang mengangkat
teleponnnya seorang pria. Dan aku menyimpulkan mungkin pacarnya telah
berselingkuh atau mungkin pacarnya sudah bersuami, itu menurut pikiranku,
karena yang aku tahu kak edward seorang pria yang belum menikah. Sebuah
kesaksian terungkap semalam, ketika aku sms kak edward, kak edward memohon
ampun kepadaku da mengatakan dirinya seorang pendosa, karena telah membohongi
dan mengecewakanku selama ini. Aku berusaha menghiburnya, karena aku sangat
tidak bisa menghadapi seorang yang merendahkan dirinya sendiri. Terlalu naifnya
aku, sampai-sampai kak edward membohongiku dari kelas 2 SMA hingga saat ini,
dia adalah edward yang sudah berkeluarga, dan memiliki seorang anak perempuan
berusia 4 tahun bernama Jenafer Tyo, kak edward juga masih memiliki orang tua,
dan dia juga bercerita bahwa istrinya meninggalkannya dan anak perempuannya,
meminta cerai darinya. Kak edward mengatakan aku terlalu baik dan suci
untuknya, sampai kapanpun aku tidak pantas untuknya yang seorang pendosa.
Kebohongan yang mungkin ia buat karena dulu menginginkan aku mencari pasangan
yang seimbang (seiman) denganku telah membebaninya bertahun-tahun, membuat
hatinya selalu gundah gulana, dan sekarang dia harus ditinggal istrinya, dan
menjadi orang tua tunggal bagi putrinya. Meskipun kekecewaan dalam hati ada,
aku berusaha untuk memaafkannya, karena Tuhan telah melupakan kekecewaan-Nya
kepadaku atas dosa-dosaku dan mengasihi aku bagaikan aku anak kesayangan-Nya.
Tuhan ampunilah aku. Sebegitu bodoh dan naifnya aku, aku menyadari sisi hidupku
yang lain, aku terlalu polos menghadapi orang-orang yang baru aku kenal. Tapi
aku bersyukur penyertaan Tuhan, kehendak Tuhan selalu membimbingku untuk
mengambil keputusan melalui kata hatiku, meskipun setelah mengambil suatu
keputusan, aku terkadang menyesal, tetapi hikmahnya aku dapat setelah beberapa
waktu kemudian, dan aku merasakan Kasih Yesus yang luar biasa dalam hidupku. Aku
sangat berterima kasih kepada Tuhan karena melalui kak edward, aku menjadi
seperti saat ini, meskipun semua dari Tuhan dan dari keinginan kita, tetapi
melalui orang lain kita tersadar akan suatu hal yang salah dalam hidup kita.
Terima kasih untuk kak edward yang pernah memberi warna dalam kehidupanku, Tuhan
teramat menyayangimu dan putri kecilmu. Peajaran berharga yang aku dapat dari
kisahku ini, tidak semua orang yang
dibohongi mendapat kekecewaan dalam hidupnya karena telah dibohongi, karena
pelajaran berharga juga ada didalamnya. Kejujuran akan jauh berarti dari
kebohongan, meskipun kejujuran tak memberi kita kebahagiaan didepan, tetapi
ketenangan hati yang telah berkata jujurlah yang sebenarnya kita butuhkan.
Tuhan teramat menyayangimu...
Jumat, 04 Januari 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar